Menulis, Buku, Kehidupan

Senin, 04 Mei 2015

Perempuan Bergaun Ungu Motif Bunga-Bunga dan Lelaki Berbaju Kotak-Kotak Warna Biru

Cerpen karya Mashdar Zainal yang dimuat Koran Tempo edisi Minggu, 3 Mei 2015. Cerpen ini merupakan cerpen pertama Mashdar yang dimuat Koran Tempo, setelah mengirimkan cerpen ke harian umum nasional itu dalam kurun waktu 5 tahun. Selamat membaca


DALAM cerita ini, tokoh perempuan kita tak memiliki nama. Kita cukup menyebutnya dengan perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga. Dan di tokoh lelaki juga tak bernama, ia kita kenal saja sebagai lelaki berbaju kotak-kotak warna biru. Kisah mereka nantinya memang menjadi kisah yang teramat picisan. Mereka yang tidak saling mengenal, dirancang bertemu di sebuah jejaring sosial. Mereka chatting selama berjam-jam, lalu bertukar nomor telepon,dan seterusnya, dan seterusnya... kau bisa menebaknya. 

Kini perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga itu sedang menunggu lelaki berbaju kotak-kotak warna biru, di sebuah kafe. Ya, kafe. Apa boleh buat, ini memang teramat picisan. Sebenarnya bisa saja si perempuan menunggu si lelaki di depan kuburan atau di tepi sungai, tapi itu sedikit naif dan memaksakan. Dan pertemuan di kafe, meski teramat picisan juga, tetap lebih masuk akal dan lebih mudah dibayangkan pembaca ketimbang pertemuan di area kuburan atau di tepian sungai.

Maka perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga itu datang ke kafe yang telah mereka sepakati pada pukul tujuh malam. Ia memesan susu soda dalam gelas besar. Ya, susu soda. Sebenarnya, perempuan itu sudah ingin memesan cappucino, tapi cappucino juga picisan. Untuk menghindari begitu banyak hal picisan, akhirnya ia memesan susu soda dalam gelas besar. Busanya meruah seperti bir. 

"Kita ke sana pukul tujuh tepat. Maksudku, pukul tujuh tepat kita sudah harus berada di sana," kata laki-laki itu di telepon, tadi pagi.

"Pukul tujuh malam, kan?" balas si perempuan.

"Tentu saja pukul tujuh malam. Sekarang sudah pukul tujuh pagi lebih."

"Iya." Si perempuan sedikit canggung.

"Iya apa?"

"Mmm... pukul tujuh malam."

"Ya, pukul tujuh malam."

"Di Kafe Bunga yang berada di Jalan Kotak-kotak, kan?"

"Ya, kita akan bertemu di sana. Di Kafe Bunga di Jalan Kotak-kotak."

"Rumahku sepertinya lebih dekat dengan kafe itu. Jadi ada kemungkinan aku sampai duluan."

"Tak masalah. Aku akan mengenalimu. Kau bergaun ungu motif bunga-bunga, kan?"

"Ya. Ungu motif bunga-bunga. Dan kau pakai baju kotak-kotak warna biru, kan?"

"Ya. Kotak-kotak warna biru. Itu baju terbaikku."

"Baiklah. Sudah jelas. Nanti kita akan bertemu."

"Ya, sudah jelas. Tak ada lagi pertanyaan. Sebelum kita akhiri percakapan ini, akan kusimpulkan kita akan bertemu di Kafe Bunga di jalan Kotak-kotak pada pukul tujuh tepat. Kau mengenakan gaun ungu bermotif bunga-bunga dan aku baju kotak-kotak berwarna biru."

"Oke."

"Oke."

Dan perempuan itu menutup teleponnya lalu menerawang ke udara sambil tersenyum-senyum sendiri. Lelaki itu juga tersenyum, senyum yang pendek tanpa dramatisasi.

Sepanjang hari perempuan itu menyeterika gaun ungu motif bunga-bunga miliknya dan menyemprotnya dengan parfum tak kurang dari sepuluh semprotan. Pukul lima sore, perempuan itu sudah memotong kuku, mandi, memakaikan dempul tipis di wajah agar bekas jerawat di pipinya terlihat samar. Ia menyisir rambutnya yang masih beraroma shampoo dan membiarkannya tergerai. Ia mematut-matut diri di cermin berkali-kali. Aku memang tak seperti bintang iklan tapi aku tidak jelek, katanya dalam hati. Seseorang di luar sana boleh-boleh saja mengagumiku, ujarnya kepada seseorang yang mengenakan gaun ungu bermotif bunga-bunga dalam cermin. Ia tersenyum. Hatinya mekar.

Perempuan itu menunggu sampai pukul setengah tujuh tanpa melakukan apa pun. Ia hanya terdiam di kamarnya sambil membaca sebuah majalah wanita terbitan bertahun-tahun lalu. Sesekali ia kembali ke depan cermin, memastikan tampilannya masih baik-baik saja. Ia tak ingin berkeringat sebelum pukul tujuh. Dalam tas, ia sudah menyiapkan dompet dan telepon genggam. Dua benda yang tak boleh ketinggalan. Jaket rajut berwarna putih gading ia sampirkan di pundak.

Ia memelototi jarum jam di kamarnya, seakan tengah menunggu sebuah ledakan. Maka, ketika waktunya tiba, ia bergegas keluar kamar sambil mengenakan jaket rajut putih gading. Sepatu hak tingginya berbunyi seperti mesin ketik tua yang tersendat-sendat. Ia melenggang, mengempaskan pantat di jok belakang taksi yang sudah menunggu dengan argo menyala. Biasanya, ke mana-mana ia naik angkot atau ojek. Tapi malam ini berbeda. Angkot atau ojek akan membuatnya berkeringat dan mengacaukan dandanannya. 


BEGITULAH kronologi singkat si perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga, hingga ia sampai di kafe dan memesan susu soda yang berbusa-busa itu. Ia memang sampai duluan, dan di kafe itu ia tidak melihat satu laki-laki pun mengenakan baju kotak-kotak berwarna biru. Perempuan itu sudah merencanakannya, sebelum ia melihat lelaki berbaju kotak-kotak warna biru datang, ia tak akan membuka identitasnya. Ia akan menyembunyinkan gaun ungu motif bunga-bunga itu di balik jaket rajut warna putih gading.

Sementara si lelaki yang ditunggunya seperti lelaki kebanyakan yang tak begitu peduli dengan parfum dan memandang santai pada banyak hal. Ia baru mandi pukul setengah tujuh. Mencukur kumis sebentar. Memakai deodoran. Menyisir rambut ke belakang. Dan berangkat dengan sepeda motor kesayangannya. Ia tahu akan sedikit terlambat. Tapi ia memang sengaja. Ia ingin perempuan itu menunggunya dengan cemas. Supaya ketika ia datang, sebuah kejutan akan menyambut mereka bagai sebuah ledakan yang lain.

Supaya cerita ini menjadi adil, maka si lelaki berbaju kotak-kotak warna biru ini juga merencanakan hal yang sama. Ia mengenakan jaket kulit cokelat muda untuk menutupi baju kotak-kotak warna biru yang ia pakai. Begitu turun dari motor, ia tak melepaskan jaketnya.Ia tak berniat melepas jaketnya sebelum bertemu dengan perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga.

Dan inilah yang terjadi....

Ketika si lelaki itu masuk, ia tak melihat si perempuan. Dan perempuan itu pun tak mengenali si lelaki. Mereka terus duduk di kursi masing-masing tanpa curiga bahwa salah satu dari mereka adalah orang yang mereka tunggu. Seharusnya jantung mereka berdegup. Tapi tidak. Mereka malah cemas dan takut jadi pecundang. Mereka pun terus bertingkah bodoh dengan membiarkan detik dan menit meleleh menjadi basi. Perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga menjelma patung perempuan berjaket rajut putih gading. Dan lelaki berbaju kotak-kotak warna biru menjelma arca lelaki berjaket kulit cokelat muda,

"Sudah satu jam lebih, lelaki itu tak akan datang. Seharusnya aku tak percaya begitu saja pada lelaki yang hanya kukenal di jejaring sosial. Mungkin sebaiknya aku pulang saja. Aku sudah kalah," gumam perempuan itu sambil menoleh ke sekeliling.

"Sialan. Mana perempuan itu? Mana si gaun ungu motif bunga-bunga. Jangan-jangan perempuan itu mempecundangiku. Ya, mana mungkin ia datang," bisik si lelaki pada dirinya sendiri.

Dua sejoli tak jadi itu pun sebenarnya ingin mencoba menelepon satu sama lain, memastikan yang lain datang atau tidak. Tapi dua-duanya sudah telanjur dimakan gengsi. Saling malu mengemis-ngemis. Saling takut dipecundangi. Maka yang mereka lakukan hanya menunggu dan menunggu. Seperti dua manekin bodoh di tengah kesayuan sebuah kafe yang melantunkan lagu jazz sayup-sayup.

Ketika mereka nyaris putus asa, ketika keduanya hendak bangkit dari duduk, tiba-tiba seorang perempuan dan seorang laki-laki muncul dari pintu kaca depan. Mereka bergandengan tangan. Sangat mesra. Bahkan lebih mesra dari yang bisa dibayangkan siapa pun. Si perempuan mengenakan gaun ungu motif bunga-bunga. Dan si lelaki mengenakan baju kotak-kotak warna biru.

Perempuan berjaket rajut putih gading menatap sepasang sejoli itu sambil menutup mulutnya. Dia bertemu orang yang salah. Lelaki berbaju kotak-kotak warna biru itu bertemu orang yang salah. Ia telanjur malu untuk melepas jaket rajut putih gading yang ia kenakan. Ia memastikan, jaket itu akan tetap akan melekat di tubuhnya sampai ia beranjak meninggalkan kafe. Segera.

Si lelaki dengan jaket cokelat muda juga ternganga. Apa dia orangnya? Kalau iya, dia pasti bertemu dengan orang yang salah. Perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga itu bertemu orang yang salah. Ia juga telanjur dongkol untuk membuka jaket cokelat mudanya. Ia berjanji, jaket itu akan terus menutupi kedoknya sampai ia berlalu dari kafe itu. Segera. 

Begitu perempuan bergaun ungu motif bunga-bunga dan lelaki berbaju kotak-kotak warna biru duduk di sebuah bangku dan memanggil pelayan--mereka masih sangat mesra dan sepertinya akan terus mesra--perempuan berjaket rajut putih gading dan lelaki berjaket cokelat muda langsung bangkit dari duduk (setelah membayar bon tentu saja). Mereka berjalan bergegas menuju pintu keluar. Seperti tak peduli pada apa pun. Di dekat pintu keluar, dua orang itu bertabrakan. Dan mereka hanya saling pandang. Tanpa minta maaf.

"Lelaki tolol, jalan tak pakai mata," umpat si perempuan, selirih mungkin.

"Perempuan sialan, matanya ditaruh di dengkul," umpat si lelaki pula, lebih lirih.

Dan dua anak manusia yang sama-sama tolol itu pun tak pernah saling bertemu. Tak pula saling menghubungi satu sama lain. Kisah picisan mereka berakhir. Atau tepatnya, tak jadi. Dan rasanya cerita ini pun telah salah judul. Seharusnya cerita ini berjudul "Perempuan Berjaket Rajut Putih Gading dan Lelaki Berjaket Cokelat Muda."

Malang, 2015
Mashdar Zainal lahir di Madiun, 5 Juni 1984. Kini bermukim di Malang.

Sumber: Koran Tempo edisi Minggu, 3 Mei 2015 
,
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar