Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 01 April 2015

Kisah Surga di Tepi Musi

Banyak orang mencari surga hingga ke ujung dunia. Padahal Surga sebenarnya dekat, bahkan mungkin telah kita lupakan. Itulah salah satu pesan dari film yang berlatar di tepi sungai Musi, Ada Surga di Rumahmu. Film ini serentak tayang 2 April 2015 di seluruh bioskop Indonesia.

Kisah Sederhana

Film Ada Surga di Rumahmu menceritakan satu keluarga yang tinggal di tepi Sungai Musi. Ramadhan kecil (Raihan Khan) piawai tampil bercerita di depan umum. Ia ingin terkenal, tayang di televisi. Namun ia juga sering bertengkar. Abuya (Budi Khairul) dan Umi Elma Theana), orang tua Ramadhan memutuskan, Ramadhan sebaiknya bersekolah di pesantren saja. Di pesantren, Ramadhan satu kamar dengan beberapa anak yang ternyata sering minggat demi mencari hiburan. Aksi minggat itu ketahuan. Ustad Athar yang dipercaya Buya untuk mendidik Ramadhan memberi hukuman. Ramadhan dan teman-temannya harus berceramah di tempat-tempat terrtentu yaitu di kuburan, pasar, bahkan di depan pohon pada tengah malam.

Hukuman itu tidak membuat Ramdahan dan teman-temannya jera tetap sering minggat ke warung makan dekat pesantren.  Ustad Athar mengetahuinya. Ustad Athar meminta Ramadhan dan teman-temannya mengaku. Ramadhan mengatakan bahwa ia minggat untuk menonton ceramah. Ustad Athar tidak percaya sehingga memukul tangan Ramadhan. Setelah bertanya kepada pemilik warung, Ustad Athar menyadari, Ramadhan jujur. Ia meminta Ramadhan balas memukulnya, namun Ramadhan menolak sambil bercucuran air mata.

Kisah berlanjut sampai Ramadhan dewasa. Ia menjadi guru di pesantren itu. Rasa bosan mulai mengganggunya, Ramadhan berharap bisa melakoni hal lain. Suatu hari, pesantren dipakai untuk syuting film. Ramadhan berkenalan dengan salah satu aktris bernama Kirana (Zeezee Shahab). Kru film menyarankan Ramadhan yang mahir ilmu bela diri datang ke Jakarta ikut casting film laga. Berangkatlah ia bersama dua temannya tanpa memberi tahu dan izin kepada orang tuanya. Tiba Jakarta, casting film ditunda sehingga Ramadhan terpaksa menginap di masjid. Di sanalah ia bertemu dengan seorang anak yang menangis karena telah ditinggal orang tuanya. Si anak menyesal dan bersedia melakukan apa saja jika orang tuanya bisa hidup lagi. Ramadhan teringat orang tuanya. Saat menelepon ayahnya, Ramadhan merasa ibunya sedang sakit. Ia teringat tangisan si anak di masjid. Ramadhan pulang ke Palembang karena khawatir casting yang akan dilaluinya tidak akan membawa berkah. Di Palembang ia kembali berdakwah, bertemu Kirana lagi, juga diam-diam dicintai teman sepermainannya yang bernama Nayla (Nina Septiani).

Latar Palembang 

Sebagian besar cerita berlatar Palembang. Hanya saat Ramadhan dikisahkan mengikuti casting, latar tempat berganti di Jakarta. Maka dari itu, hampir seluruh kisah menggunakan dialog dalam bahasa Palembang. Semua pemeran utama sepertinya berusaha keras untuk menguasai bahasa dan logat Palembang. Namun hanya Ustad Ahmad Al Habsyi dan beberapa pemeran pembantu asal Palembang saja yang terdengar alami bahasa dan logat Palembangnya. Misalnya ibu Kirana dan pemilik songket yang dijahitkan oleh Umi. Saat adegan marah, logat dan intonasi kedua pemain itu meyakinkan sekali.  

Rumah Ramadhan yang berada di perkampungan tepi sungai musi, membuat film ini menayangkan nuansa alami dan khas tepi sungai musi, tanpa ada usaha untuk memolesnya agar terlihat bagus. Bahkan eceng gondong yang mengapung di depan rumah Ramdhan dibiarkan terambil kamera. Selain itu pemandangan sungai musi dengan jembatan ampera di kejauhan muncul di beberapa adegan. Keramaian saat senja khas Plaza Ampera di depan Benteng Kuto Besak juga hadir sebagai latar adegan Ramadhan dan Nayla yang tengah bicara berdua.  Pemandangan dan latar di film ini seolah ingin rindu orang-orang Palembang yang tengah jauh di rantau.

Aman untuk Keluarga

Secara umum film Ada Surga di Rumahmu bisa ditonton oleh seluruh anggota keluarga. Bagian awal film menyuguhkan kisah Ramadhan kecil di rumah dan pesantren. Kenakalan khas anak usia SD dihadirkan, namun tidak ada adegan khusus dewasa setelahnya. Kisahnya pun sederhana. Mudah dicerna. Film ini dapat mengingatkan anak agar berbakti kepada orang tuanya.

Hanya saja, dalam penokohan Ramadhan dewasa, agak janggal seorang santri mau membonceng Nayla, nonmuhrimnya. Mungkin hal ini dikarenakan Ramadhan dan Nayla sudah bersahabat sejak kecil. Jadi bonceng berdua dianggap biasa. Termasuk kepergian mereka ke Plaza Ampera yang terlihat hanya berdua saja. Jika Ramadhan sangat menjaga pergaulan dengan lawan jenis, adegan ini mungkin tidak akan ada. Dua adegan tersebut dihadirkan mungkin sebagai bentuk penokohan Ramadhan yang cukup permisif soal pergaulan lawan jenis.


Usai menonton film ini, saya melihat sebagian penonton yang matanya sembab. Termasuk Ridwan Kamil, walikota Bandung yang juga hadir pada saat special preview di Blitzmegaplex PVJ Bandung itu. Bagi penonton yang mudah tersentuh, bisa menyiapkan sapu tangan atau tissue, jika tidak mungkin seperti Ridwan Kamil yang menyeka air mata dengan jilbab istrinya.      
,
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar