Menulis, Buku, Kehidupan

Rabu, 18 Desember 2013

Jam Biologis Menulis


Kantor masih sepi. Satu jam lagi, karyawan lain baru akan beradatangan. Saya menyalakan komputer, dan memaksalan diri untuk menulis lagi, seperti kebiasaan 9-10 tahun yang lalu. Saat itu saya masih bekerja lepas. Pagi hari tak harus buru-buru menyiapkan diri untuk pergi ke kantor.

Menulis di Rumah

Saat itu saya menulis sekitar 4-5 jam. Perumahan yang saya tinggali cukup tenang dan nyaman di pagi hari. Saya buka jendela kamar tidur lebar-lebar dan mulai mengetik di komputer. Kegiatan menulis saat itu cukup fokus sebab komputer yang saya gunakan belum terkoneksi dengan internet. Ponsel yang saya miliki pun belum sepintar ponsel layar sentuh sekarang. Fungsinya hanya untuk menelepon dan berkirim pesan saja, serta fungsi tambahan lain yang jarang saya gunakan.

Pada siang hari, lepas dzuhur, kamar saya mulai terasa panas. Meskipun jendela dibuka lebar-lebar atau sekalian dilepas daunnya, tetap saja tak dapat menurunkan temperatur ruangan. Maka dari itu, di siang hari biasanya saya mulai keluar dari kamar. Saya pergi ke Rumah Cahaya, toko buku, warnet, atau ke mana saja. Salah satu tujuan keluar tersebut, tentu saja untuk menangkap ide-ide yang bertebaran atau mengendapkan tulisan.

Menemukan Jam Biologi Menulis

Melalui kebiasaan tersebut, saya akhirnya tahu, jam biologis saya untuk menulis adalah pagi hari. Saat tubuh masih bugar karena belum melakukan banyak aktivitas fisik atau pikiran belum kusut dengan berbagai problematika hidup. Saya juga belum menonton atau mendengar berita pagi sehingga tidak perlu ikut pusing dengan permasalahan bangsa. Telepon genggam saya juga hanya bisa untuk sms dan telepon saja, dan komputer tidak terhubung ke jaringan internet, sehingga saat menulis, ya menulis saja. Tidak ada pengalih perhatian. Satu-satunya pengalih perhatian adalah si bibi yang minta izin menyapu atau mengepel kamar. 

Mungkin kita pernah membaca istilah jam biologis menulis atau mendengar penuturan penulis tertentu. Si penulis mengatakan dia sering menulis pada waktu sepertiga malam, ketika anak-anaknya terlelap, atau pada tengah malam. Itulah jam biologis menulis bagi penulis tersebut Saya pernah mencoba menulis di berbagai waktu, tapi nyamannya di pagi hari tersebut, antara jam 6-12. Tentu saja diselingi dengan aktivitas sarapan, mandi, dan lainnya. Jadi jika ditotal menulisnya sekitar 3-4 jam saja.

Jam Biologi Menulis Kita Berbeda

Setiap orang berada pada situasi dan kondisi yang berbeda. Maka dari itu, kita belum tentu meniru kebiasaan menulis yang dilakukan oleh penulis-penulis terkenal. Seorang penulis produktif pernah bilang pada saya bahwa ia suka menulis di malam hari, pagi harinya dia tidur. Kopi adalah sahabat karibnya saat menulis. Saya pernah mencobanya, tapi di malam hari itu saya malah terkantuk-kantuk. Biar pun minum segalon kopi tetap saja ngantuk. Jadi tak perlu meniru kebiasaan menulis orang lain. Coba saja dan temukan jam biologis menulis kita.

Tubuh di kantor, namun pikiran dapat berkelana ke mana saja

Setelah bekerja di kantor, saya berusaha mengubah jam biologi menulis saya. Malam hari, Senin-Jumat, menjadi pilihan karena Sabtu dan Minggu saya habiskan sepenuhnya untuk anak dan istri. Sayangnya menulis di malam hari kurang berhasil karena tubuh dan pikiran saya sudah terlalu lelah. Maka dari itu saya mencoba datang pagi-pagi ke kantor sebelum jam 7. Saat bel tanda jam kerja dimulai belum berbunyi, saya menulis untuk dikirimkan ke media sosial atau blog. Meskipun hanya memiliki waktu luang kurang dari 2 jam, semoga jika dirutinkan bisa kembali memberui manfaat pada diri saya dan banyak orang melalui tulisan. Mari menulis!

Sumber Gambar
1. Jam: http://www.elizabethmaddrey.com
2.  Pria di gunung http://www.killadj.com 



Comments
3 Comments

3 komentar:

  1. Betul sekali, jam biologis menulis tiap orang berbeda. Tak bisa dipaksakan meniru orang lain yg punya waktu dan kesibukan yang berbeda.

    BalasHapus
  2. Jam biologis menulisku adalah ketika rumah rapi, bayi tidur, dan cemilan terhidang kwkwkw...

    BalasHapus